Jumat, 06 Juni 2014

“ADA PALU GODAM MENGHANCURKAN PERASAAN YG KU UNTAI INDAH SELAMA INI”



Jarum jam ditangan ku menunjukkan angka 14.42, aku sudah tiba di rumah setelah seharian menghabiskan waktu ku untuk menuntut ilmu di sekolah. Memang tak seperti biasanya pada jam itu aku sudah tiba di rumah, namun kebetulan besok hari sabtu sekolah ku libur untuk menyiapkan ulangan kenaikan kelas, jadi setelah selesai belajar pun tak ada lagi tambahan – tambahan kegiatan lain, entah itu kegiatan ekskul atau pun semacamnya.
Ku ambil hp  ku di dalam tas, tapi tak ku luhat ada BBM / SMS yg dikirim oleh dia. Hanya ada beberapa teman saja yg mengirimi ku pesan, sekedar untuk menanyakan apa yg sedang aku kerjakan. Kecewa sebenarnya tapi bagaimana lagi, aku urung untuk menghubungi dia lebih dulu, kerena aku takut dia tidak membalas pesanku.
Akhir – akhir ini sikap dia memang berubah padaku, kini dia tak pernah menghubungi ku lebih dulu lagi. Sekedar untuk mengucapkan selamat pagi pun kini tak pernah lagi. Aku takut dikira aku tak mengerti dia jadi selalu aku yang mengalah untuk menghubunginya lebih dulu. Bahkan jika pesanku menurut dia tidak penting, dia tidak pernah membalas pesan ku kembali. Sehingga mulai muncul pertanyaan - pertanyaan dibenak ku, karena ada yang lain kah? Apa dia bosan denganku? Tapi aku hanya bersabar dan sebisa mungkin ku tepis semua pertanyaan – pertanyaan itu dan aku terus mengikuti alur cerita ini.
 Memang beberapa hari kebelakang kita pernah berdebat sedikit karena status facebook yang ku buat untuk dia, mungkin sedikit membuat dia tersinggung atau mungkin membuat dia kecewa padaku. Tapi aku lakukan itu karena aku tak tahan dengan sikap dinginnya padaku. Yaaa intinya tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Sering aku memohon untuk menyelesaikan nya dengan baik – baik tapi tak pernah membuahkan hasil. Dan kemudian hati ini kembali berkata kali ini aku yang harus lebih dulu menghubunginya lagi...
“PING!!!”
Beberapa menit berlalu dia belum juga menjawab pesan ku.... -_-
“Iya”, akhirnya setelah beberapa menit menunggu dia membalas pesan ku juga, aku balik membalas pesannya.
“Sudah pulang?” pertanyaan yang biasa aku tanyakan kepada nya jika aku sudah pulang dari sekolah.
“Baru sampai rumah” dia membalas dengan ramah.
Kemudian saat itu, muncul kembali pertanyaan dibenak ku pertanyaan yang selama ini ingin aku tanyakan karena melihat sikap dia akhir – akhir ini sangat beda dari biasanya. Sebenarnya aku tak berani bertanya, tapi aku ingin ada kejelasan aku tak mau keadaan ku dengan dia menjadi kaku seperti ini. 
“Boleh bertanya?” sebelumnya aku bertanya seperti itu, karena kalau aku bertanya langsung pada intinya takut malah membuat dia menjadi bt atau apalah itu semacamnya~
“Nanya apa?” dia membalas.
“Kenapa kok beberapa hari ini kamu kayanya beda dari biasanya ya? maaf aku cerewet tapi aku gak mau kalau misalnya keadaan kita itu jadi dingin seperti ini”.
Beberapa menit dia tidak kunjung membalas pesan ku, mulai ada perasaan tak enak dalam hati ini. Aku membayangkan kalau misalnya dia tak suka dengan pertanyaan ku itu. Lampu led hp ku menyala menandakan ada BBM masuk... Ada balasan dari dia akhirnya~
“ :| “  
Hanya seperti itu dia membalas, sebuah emoticon “straight face” hanya itu saja, tuhaaaan aku semakin bingung dengan sikapnya, “i want to cry god”
“kenapa?”
Kembali lama... dia tidak menjawab - menjawab pesanku, akhirnya... ku lihat lampu led hp ku kembali menyala. Tapi aku enggan untuk membukanya, entah kenapa? Ku pikir itu hanyalah BC dari teman kontak BM ku. Ku biarkan saja beberapa saat.... Dan kini ku mulai mengetikkan password handphone ku dan ternyata ada BBM dari nya dan langsung ku buka.
“Kita berteman saja ya” itulah balasan dari dia.
Sungguh, rasanya ada sebuah palu godam yang menghancurkan perasaan ini, perasaan yang ku untai indah selama ini hanya untuk nya. Kini rasanya telah hancur semua itu. Entah apa yang harus aku lakukan pada saat itu, ku berusaha bersikap dewasa dengan tidak langsung berkata kecewa kepadanya, kecewa akan keputusannya itu. Dan rasanya aku ingin sekali mengeluarkan air mata ini pada saat itu. Tapi ku berusaha kuat agar tak menangis akan hal itu.
Ku pikir sudah terlalu banyak air mata yang aku keluarkan karena dia, karena sikap – sikap dinginnya selama ini padaku. Sikap dingin nya yang selalu membuat aku bingung dan lelah. Tidak, aku tidak bermaksud menyalahkannya aku pikir mungkin karena aku juga dia seperti itu. Tapi apa yang telah aku lakukan kepadanya sampai – sampai dia seperti itu padaku, aku tak merasa ada sikap ku yang membuat dia seperti itu. Dan yang dia tidak tahu sesungguhnya aku adalah perempuan rapuh yang bisanya hanya menangis dan bersabar untuk menghadapi sikap – sikap nya.
Kini aku mulai meminta alasan mengapa dia memutuskan hal itu. Siapa sih yang tidak kecewa diputuskan oleh kekasih sendiri dengan alasan yang tidak jelas, seperti yang aku bilang aku harus berusaha bersikap dewasa, dan kalaupun itu keputusan yang terbaik untuk hubungan ini, apa boleh buat? Aku harus menerimanya. Dan aku tidak boleh benci kepadanya bagaimanpun dia pernah ada dalam kehidupan ku, dia pernah mewarnai hari – hari ku dengan suka dan duka yang pernah kita lewati. And maybe love is not how about give and given but also love is how about to let the people we love leave us. I hope you can find a women better then me. ~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Search This Blog