Jarum jam ditangan ku menunjukkan angka 14.42,
aku sudah tiba di rumah setelah seharian menghabiskan waktu ku untuk menuntut
ilmu di sekolah. Memang tak seperti biasanya pada jam itu aku sudah tiba di
rumah, namun kebetulan besok hari sabtu sekolah ku libur untuk menyiapkan
ulangan kenaikan kelas, jadi setelah selesai belajar pun tak ada lagi tambahan
– tambahan kegiatan lain, entah itu kegiatan ekskul atau pun semacamnya.
Ku ambil hp
ku di dalam tas, tapi tak ku luhat ada BBM / SMS yg dikirim oleh dia.
Hanya ada beberapa teman saja yg mengirimi ku pesan, sekedar untuk menanyakan
apa yg sedang aku kerjakan. Kecewa sebenarnya tapi bagaimana lagi, aku urung
untuk menghubungi dia lebih dulu, kerena aku takut dia tidak membalas pesanku.
Akhir – akhir ini sikap dia memang berubah
padaku, kini dia tak pernah menghubungi ku lebih dulu lagi. Sekedar untuk
mengucapkan selamat pagi pun kini tak pernah lagi. Aku takut dikira aku tak
mengerti dia jadi selalu aku yang mengalah untuk menghubunginya lebih dulu. Bahkan
jika pesanku menurut dia tidak penting, dia tidak pernah membalas pesan ku
kembali. Sehingga mulai muncul pertanyaan - pertanyaan dibenak ku, karena ada
yang lain kah? Apa dia bosan denganku? Tapi aku hanya bersabar dan sebisa
mungkin ku tepis semua pertanyaan – pertanyaan itu dan aku terus mengikuti alur
cerita ini.
Memang
beberapa hari kebelakang kita pernah berdebat sedikit karena status facebook
yang ku buat untuk dia, mungkin sedikit membuat dia tersinggung atau mungkin
membuat dia kecewa padaku. Tapi aku lakukan itu karena aku tak tahan dengan
sikap dinginnya padaku. Yaaa intinya tidak mungkin ada asap kalau tidak ada
api. Sering aku memohon untuk menyelesaikan nya dengan baik – baik tapi tak
pernah membuahkan hasil. Dan kemudian hati ini kembali berkata kali ini aku
yang harus lebih dulu menghubunginya lagi...
“PING!!!”
Beberapa
menit berlalu dia belum juga menjawab pesan ku.... -_-
“Iya”,
akhirnya setelah beberapa menit menunggu dia membalas pesan ku juga, aku balik
membalas pesannya.
“Sudah pulang?” pertanyaan yang
biasa aku tanyakan kepada nya jika aku sudah pulang dari sekolah.
“Baru sampai rumah” dia membalas dengan ramah.
Kemudian saat itu, muncul kembali pertanyaan
dibenak ku pertanyaan yang selama ini ingin aku tanyakan karena melihat sikap
dia akhir – akhir ini sangat beda dari biasanya. Sebenarnya aku tak berani
bertanya, tapi aku ingin ada kejelasan aku tak mau keadaan ku dengan dia menjadi
kaku seperti ini.
“Boleh bertanya?” sebelumnya aku bertanya seperti itu, karena
kalau aku bertanya langsung pada intinya takut malah membuat dia menjadi bt
atau apalah itu semacamnya~
“Nanya apa?”
dia membalas.
“Kenapa kok
beberapa hari ini kamu kayanya beda dari biasanya ya? maaf aku cerewet tapi aku
gak mau kalau misalnya keadaan kita itu jadi dingin seperti ini”.
Beberapa menit
dia tidak kunjung membalas pesan ku, mulai ada perasaan tak enak dalam hati
ini. Aku membayangkan kalau misalnya dia tak suka dengan pertanyaan ku itu. Lampu
led hp ku menyala menandakan ada BBM masuk... Ada balasan dari dia akhirnya~
“ :| “
Hanya seperti itu
dia membalas, sebuah emoticon “straight face” hanya itu saja, tuhaaaan aku
semakin bingung dengan sikapnya, “i want to cry god”
“kenapa?”
Kembali lama...
dia tidak menjawab - menjawab pesanku, akhirnya... ku lihat lampu led hp ku
kembali menyala. Tapi aku enggan untuk membukanya, entah kenapa? Ku pikir itu
hanyalah BC dari teman kontak BM ku. Ku biarkan saja beberapa saat.... Dan kini
ku mulai mengetikkan password handphone ku dan ternyata ada BBM dari nya dan
langsung ku buka.
“Kita
berteman saja ya” itulah balasan dari dia.
Sungguh, rasanya
ada sebuah palu godam yang menghancurkan perasaan ini, perasaan yang ku untai
indah selama ini hanya untuk nya. Kini rasanya telah hancur semua itu. Entah
apa yang harus aku lakukan pada saat itu, ku berusaha bersikap dewasa dengan
tidak langsung berkata kecewa kepadanya, kecewa akan keputusannya itu. Dan rasanya
aku ingin sekali mengeluarkan air mata ini pada saat itu. Tapi ku berusaha kuat
agar tak menangis akan hal itu.
Ku pikir sudah
terlalu banyak air mata yang aku keluarkan karena dia, karena sikap – sikap
dinginnya selama ini padaku. Sikap dingin nya yang selalu membuat aku bingung
dan lelah. Tidak, aku tidak bermaksud menyalahkannya aku pikir mungkin karena
aku juga dia seperti itu. Tapi apa yang telah aku lakukan kepadanya sampai –
sampai dia seperti itu padaku, aku tak merasa ada sikap ku yang membuat dia
seperti itu. Dan yang dia tidak tahu sesungguhnya aku adalah perempuan rapuh
yang bisanya hanya menangis dan bersabar untuk menghadapi sikap – sikap nya.
Kini aku mulai
meminta alasan mengapa dia memutuskan hal itu. Siapa sih yang tidak kecewa
diputuskan oleh kekasih sendiri dengan alasan yang tidak jelas, seperti yang
aku bilang aku harus berusaha bersikap dewasa, dan kalaupun itu keputusan yang
terbaik untuk hubungan ini, apa boleh buat? Aku harus menerimanya. Dan aku
tidak boleh benci kepadanya bagaimanpun dia pernah ada dalam kehidupan ku, dia
pernah mewarnai hari – hari ku dengan suka dan duka yang pernah kita lewati.
And maybe love is not how about give and given but also love is how about to let the
people we love leave us. I hope you can find a women better then me. ~~~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar