Setelah kejadian hari kemarin, aku berusaha untuk tidak
terlalu memikirkannya bahkan aku ingin segera melupakannya. Eitsss bukan
melupakan dia, tapi hanya melupakan kenangan - kenangan buruk saat aku bersama
dia saja, dan satu hal aku tidak akan pernah melupakannya bagaimanapun dia
adalah salah satu orang yang telah mengajariku bagaimana cara mencintai seseorang
itu.
Pagi ini aku ikut bersama ibu dan uwa ku menghadiri sebuah
pesta pernikahan anaknya temannya ibu dan uwa ku, karena kebetulan hari ini
hari libur. Rumah yang punya hajat tak begitu jauh dari tempat tinggal ku, 10
menit menggunakan kendaraan bermotor dari rumah ku juga sudah bisa sampai di
sana.
Kini aku duduk diantara ibu dan uwa ku, acara akad
pernikahannya akan dimulai sebentar lagi. Ada yang melantunkan bacaan ayat
Al-Qur’an dengan sangat merdu dan ku nikmati setiap ayat yang dilantunkan
pembacanya. Sungguh terasa sangat menyejukkan hati ini. Hati yang sebenarnya
tengah dilanda kegalauan. Tapi ku berusaha untuk tidak memikirkannya, karena ku
pikir banyak hal yang lebih penting untuk ku pikirkan dari pada meikirkan hal
macam galau itu.
“Saya terima nikah nya Fitri Nuraini binti Koko Hartono dengan mas
kawin 12 gram emas dan uang dua juta rupiah dibayar tunai”. Begitu ucap
calon pengantin pria dengan sangat
lancar, sepertinya calon pengantin pria itu sudah menghapal kalimat – kalimat tersebut
satu bulan sebelum pernikah mereka, jadi ketika hari H, Ijab Qobulnya berjalan
lancar.
“Bagaimana saksi sah?”
“Saaahhh...”. bahkan bukan hanya saksi pernikahannya saja
yang mengatakan sah tapi, hampir semua tamu berucap demikian.
Do’a pernikahan pun segera dipanjatkan, seketika itu juga ketika
aku tengah ikut berdo’a untuk pengantin tiba – tiba aku membayangkan hal yang
tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Yaaa... tiba – tiba aku membayangkan
bagaimana jika yang sedang di do’akan oleh orang banyak saat ini adalah aku dan
calon suamiku. Hoalaahhh apalah yang sedang ku bayangkan ini, sekolah SMA pun
belum lulus sungguh masih sangat panjang perjalanan hidupku untuk menghadapi hal yang seperti itu.
Acara berlanjut dengan rangkaian adat pernikahan ala sunda,
dari mulai sembah sungkem yaitu kedua pengantin sungkem atau meminta maaf sekaligus meminta do’a
restu kepada kedua orang tua nya, untuk memulai fase baru di kehidupan mereka.
Ada juga saweran maknanya yaitu bahwa dalam hidup kita harus saling berbagi
bersama orang – orang sekitar kita, apalagi bersama orang yang sangat
membutuhkan. Daaaan masih banyak acara adat yang lainnya.
Oh ya, ternyata ada hal yang menurut ku menarik di
pernikahan anaknya teman ibu ku ini. Ternyata pengantin pria dan pengantin
wanitanya sama – sama tinggal di kampung yang sama. Bahkan rumah pengantin pria
dan rumah wanita nya kurang lebih hanya berjarak 50 meter. Jadi ingat lagunya
Ayu Ting – Ting yang judulnya “Pacar Ku 5 Langkah”~.
Menurutku itu adalah hal yang tidak biasa, karena aku baru
menemukan hal yang demikian. Paling – paling kalau ada yang nikahan itu setahu
ku paling dekat juga beda kampung, sedangkan ini pengantinnya tinggal di
kampung yang sama. Tapi apalah arti sebuah jarak, karena sesungguhnya cinta itu
tidak mengenal yang namanya jarak.
Ada sesuatu yang bisa ku petik dari hal menarik itu, pada
dasarnya memang benar jodoh itu yang tahu cuman tuhan, siapa yang menyangka
anak tetangga bisa jadi suami / istri kita, seperti ceritaku tadi. Bisa saja
saat ini kita putus atau berpisah dengan pacar yang kita sayangi tapi tenanglah
kalau jodoh itu tak akan kemana, dia pasti akan kembali kalau misalnya kata
Tuhan dia memang yang terbaik untuk kita. Tapi kalau pun dia tidak kembali
artinya dia bukan yang terbaik untuk kita. Dan satu hal lagi Tuhan adalah yang paling
tahu siapa dan apa yang terbaik untuk hidup kita.
“Sedang sendiri adalah
masa manis untuk menyiapkan diri bagi cinta yang lebih berkelas.
Anda masih muda, tidak
perlu tergesa. Indahkan hati, rupa, bahasa, dan perilaku.
Belahan jiwa anda hanya
seindah jiwa anda. Jika sudah waktunya, Tuhan akan mempertemukan anda berdua”. ~Mario Teguh
